Friday, December 20, 2019

Throwback Time : Menghadapi Bencana Gempa Bumi Lombok

Kalau dipikir-pikir, ternyata udah hampir dua tahun aku kerja di Telkom, tepatnya di Witel Nusa Tenggara Barat. Ngga pernah sekali pun aku bermimpi bakal ditempatin di daerah ini, jauh dari orang tua, jauh dari temen-temen, jauh dari siapapun. Dan sebagai anak yang super introvert, tentu saja aku lebih pengen ditempatin di wilayah yang dekat dengan inner circle aja, hehe. Tapi ternyata, setelah menjalani hampir dua tahun di sini, aku dapet banyak banget pengalaman seru yang mungkin tidak akan pernah aku dapet kalau aku ditempatin di daerah asalku.

Pengalaman terseruku di Witel Nusa Tenggara Barat diawali dengan goncangan cukup keras di awal bulan Agustus tahun lalu, tepatnya tanggal 5 Agustus 2018, yang cukup bisa menggoncangkan hatiku juga. Yep, baru tiga bulan ditempatkan di Witel ini, aku sudah dihadapkan dengan tantangan yang luar biasa, bencana gempa bumi Lombok. Ngga main-main, ribuan kali gempa bumi mengguncang dengan kekuatan terbesar mencapai 7 SR. Panik? Jelas. Takut? Jelas. Perasaanku saat itu benar-benar campur aduk. Panik, takut, sedih, cemas, merasa sendiri, bahkan sempat merasa hidup ini ngga adil. Kenapa aku harus ditempatkan sangat jauh dari keluargaku dan harus merasakan bencana gempa bumi ini.

Tapi setelah dilihat lagi ke belakang, ada banyak hal yang bikin aku kagum, bahkan sampai sekarang masih selalu aku kenang. Salah satunya adalah semangat para karyawan Telkom Witel Nusa Tenggara Barat dalam menghadapi bencana gempa bumi Lombok. Masih teringat jelas di kepalaku, bagaimana sigapnya teman-teman membangun Posko Bencana Gempa Bumi Lombok tepat sehari setelah terjadi gempa. Posko Bencana Gempa Bumi Lombok yang didirikan di bawah tenda di halaman kantor Witel Nusa Tenggara Barat ini digunakan sebagai ruang kerja sekaligus Plasa Telkom sementara karena gedung Witel yang rusak akibat gempa. Plasa Telkom sendiri langsung buka di hari Selasa tanggal 7 Agustus 2018. Hal itu berarti hanya sehari Plasa Telkom tutup. Mungkin Plasa Telkom ini adalah layanan publik yang paling cepat kembali beroperasi dibandingkan layanan publik lainnya.

Di malam hari, tenda Posko Bencana Gempa Bumi ini digunakan sebagai tempat mengungsi dan tidur karyawan Telkom Witel Nusa Tenggara Barat serta warga sekitar. Kalau dihitung-hitung, sepertinya sekitar dua bulan aku dan teman-teman tidur di bawah tenda itu, berbaur dengan seluruh karyawan dan warga yang rumahnya terdampak bencana gempa bumi Lombok. Dingin sih udaranya, tapi kebersamaan dengan mereka membuatku merasa lebih hangat.


Saat siang, Posko digunakan sebagai kantor sementara
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Saat Malam, Posko digunakan sebagai tempat tidur dan mengungsi
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Aku juga benar-benar ingat bagaimana kepedulian para Senior Leader terhadap seluruh anggotanya. Setelah gempa terjadi, mereka dengan sigap mengabsen anggotanya satu per satu untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Yang diabsen bukan hanya anggotanya saja lho, tapi juga keluarga dan keadaan sekitar tempat tinggal masing-masing anggota.


Arahan GM terkait kesiap siagaan mengahadapi bencana gempa bumi Lombok
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Para pejuang di lapangan juga sangat gigih untuk memperbaiki jaringan yang rusak terdampak gempa. Meskipun kantor dan rumah tempat tinggalnya sendiri rusak, mereka tetap bekerja tanpa kenal lelah memperbaiki jaringan telekomunikasi di Lombok, terutama di Lombok Utara dengan fokus jaringan Telkomsel demi membantu tim BNPB dan BPBD mengevakuasi korban.

Tim Bantek dari Singaraja, Denpasar, dan Surabaya siap berjuang di lapangan
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Hal lain yang membuat aku kagum adalah soliditas karyawan Telkom Group. Bantuan datang silih berganti tidak pernah putus. Dari Regional 1 hingga Regional 7, anak perusahaan, Divisi Fungsi, Forsikatel, binroh berbagai agama, hingga Tim Culture Agent, semua saling mempererat genggaman tangan, saling menguatkan, dan juga memberikan bantuan. Bantuan yang datang pun beragam, mulai dari fresh money, tenaga teknisi, tenaga medis, peralatan kerja, pakaian, tenda, air bersih, dan lain-lain. Nilai solid dalam budaya the Telkom Way benar-benar terasa saat itu. Tidak hanya di mulut seperti yang biasa kita teriakkan di awal rapat atau saat upacara.

Ada lagi hal yang menurutku sangat keren yaitu semangat sinergi BUMN dalam proses recovery bencana. Seluruh BUMN saling membantu untuk membangun kembali Lombok. Dikoordinir langsung oleh pemerintah provinsi, BUMN dijadikan pendamping di setiap desa yang terdampak gempa. Telkom sendiri mendapat bagian di Desa Senteluk, desa di Lombok barat yang terdiri dari enam dusun. Telkom bersama warga bekerja sama mulai dari membereskan puing, membangun tenda pengungsian, fasilitas MCK sementara, serta tempat ibadah sementara. Selain itu, kegiatan lain seperti trauma healing dan fasilitas medis darurat juga disediakan oleh Telkom untuk membantu warga di desa Senteluk. 



Kegiatan Trauma Healing di Desa Senteluk
(Sumber: dokumentasi pribadi)


Aktif sebagai relawan di Desa Senteluk
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang mungkin tidak akan pernah aku dapat kalau aku tidak ditempatkan di Witel Nusa Tenggara Barat ini. Kadang aku suka kepikiran, kerja di Telkom ini mungkin yang aku cari adalah rezeki, tapi yang Allah beri rezeki plus pengalaman hidup luar biasa. Aku ingin yang baik, maka Allah beri yang terbaik.